PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Ide Memiskinkan Media Sekuler

-PeduliFakta.Blogspot.com -
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Penggiringan opini publik oleh media sekuler di Indonesia bahkan dunia sudah sangat parah. 

Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal, lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga.

Publik dicuci otak dengan narasumber yang tidak kredibel.
Seperti mengutip kata artis,budayawan,sastrawan yang sama sekali tidak nyambung bahkan tidak ahli pada bidangnya.

Contoh : Zuhairi Misrawi 



Si Zuhairi Misrawi ini oleh media diberi gelar sebagai Pengamat Timur Tengah.
Cendikiawan Zuhairi Misrawi ,Intelektual Muda Zuhairi Misrawi ,Ustad Zuhairi Misrawi ,Syaikh Zuhairi Misrawi ,Kyai Zuhairi Misrawii ,Pengamat timur tengah Zuhairi Misrawi , percayalah gelar-gelar seperti itu hanya tipu daya setan (red: TV) untuk mengelabui masyarakat.

Seperti apa sebenarnya sosok Zuhairi Misrawi ini?

Zuhairi Misrawi (alumni filsafat Al-Azhar Mesir yang pernah diadili dan diharap Istitab (bertaubat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala oleh teman-temannya di Mesir karena dianggap mengatakan bahwa shalat 5 waktu tidak wajib, kata Zainul Majdi MA (alumni Al-Azhar dari Lombok), di dalam pertemuan para Ulama dan tokoh Islam di As-Syafi’iyah Jakarta, Rabu 6 Ramadhan 1425H/ 20 Oktober 2004.

Zuhairi Misrawi akan mengatakan Si A yg salah Si B yang salah ngawur bicara tentang kondisi timur tengah.
Zuhairi mendukung kudeta Mesir.Opini publik digiring.Zuhairi Misrawi Oleh Metro Tv dilabeli Sebagai Pengamat Timur Tengah.
Zuhairi Misrawi bermimpi meniru kekejian kaum liberal Mesir yang membantai umat Islam karena beda aliran, tapi dalam waktu yang sama zuhairi nisrawi tetap mengaku tidak anti Islam.
statement fasis zuhairi misrawi

Contoh lainya ,kebohongan - kebohongan media...



Lakukan Kebohongan Pemberitaan Mesir, Metro TV Dilaporkan ke KPI

Sabtu, 17 Agustus 2013 (1:02 am) / Nasional
Wakil Forum Rektor se Indonesia Tufan Maulamin, menyatakan keberatannya kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan pemberitaan Metro TV. Dia mengatakan bahwa Metro TV melakukan kebohongan dalam pemberitaan soal Mesir.
“Dalam tayangan Metro Hari Ini (MHI) Kamis (15/8/2013), televisi pemberitaan tersebut memberitakan bahwa korban jiwa di Mesir hanya 421 jiwa,” tulis Taufan dalam suratnya ke KPI.
Metro TV seakan-akan hendak menyudutkan kaum muslimin sebagai bersalah dalam krisis politik Mesir mutakhir ini. Sejatinya kaum Muslimin menjadi korban kebiadaban Sisi.
“Dalam tayangan sore itu juga, Metro TV seakan-akan menyalahkan kaum muslim dan rakyat Mesir pro Presiden Muhammad Mursi sebagai “biang kerok” kerusuhan di Mesir dengan menayangkan sebuah gereja yang terbakar,” lanjut Ketum AAKSI ini seperti diberitakan Ar Rahmah Media.
Selanjutnya Taufan mengungkapkan, dalam tayangan tersebut, Metro TV juga mengabarkan bahwa korban jiwa kebanyakan adalah anggota Ikhwanul Muslimin (IM) dan rakyat Mesir karena bentrok dengan kelompok anti Mursi. Ini menyalahi fakta.
Padahal realitasnya, dan ini terekam pada gambar foto dan video, bahwa kaum Muslimin Mesir meninggal dunia karena dibantai oleh pasukan junta militer  yang juga pelaku kudeta Mesir.

Pola yang selalu dilakukan oleh media sekuler untuk menipu publik,menggiring opini publik adalah dengan memelintir berita,mengangkat isu2 tidak penting untuk menutupi kasus lain.Memojokan Umat Islam.Memakai narasumber anti Islam.Mensetting acara Agar Umat Islam kalah dalam perdebatan.Memotong motong pembicaraan.Membuat Diskusi  3 lawan 1. 3 anti Islam dan 1 Pro Islam sehingga dikeroyok dan terpojok.Waktu lebih sedikit untuk berbicara.

Statement/pendapat liberalis dan penganut aliran sesat syiah/pro syiah,Pro Aliran sesat macam Alwi Shihab,Quraish Shihab,Gusdur,Zuhairi Misrawi,Yeni Wahid akan terus diulang ulang di media.Sehingga publik dicuci otaknya oleh tayangan tersebut.

Media menggoreng isu kekerasan,menbangun opini publik dengan menampilkan tayangan anarkisme ormas Islam.
Media menggoreng isu Terorisme.

Solusi untuk ini semua adalah,,kita harus melawan media.

Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.

Kasus-kasus kezhaliman media sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).

Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.

Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?

Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim(semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.

Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.

Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pengacara-pengacara Pro Islam bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
AMW/PeduliFakta
Label artikel Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? | ide memiskinkan media sekuler | Kebusukan Media | Terorisme | Zuhairi Misrawi judul Ide Memiskinkan Media Sekuler...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 10 Agustus 2014

Belum ada komentar untuk "Ide Memiskinkan Media Sekuler"

Poskan Komentar